Lynx segera menjelaskan untuk menenangkan mereka, "kita tidak punya pilihan lain, selain itu aku punya ide agar kita bisa melewati ini semua. Kita akan mengikat badan kita bersama dengan tali agar tidak ada yang terluka seandainya terkena pengaruh halusinasi, dan kita akan menggunakan beberapa ramuan yang kubuat untuk mengurangi efeknya. "

Mendengar hal tersebut, Leena menganggukkan kepala menyetujui karena mereka tidak punya pilihan lain, sementara Sherly terpaksa menyetujui.

Lynx segera menembakkan panah yang sudah diikat dengan daun ungu ke arah api unggun. Tidak lama kemudian api menyala lebih besar, menyebarkan asap berwarna ungu yang tebal ke segala arah.

Kemudian, Lynx segera mengikatkan diri mereka bertiga menggunakan tali yang sudah disiapkan oleh Leena. Mereka juga mengoleskan sebuah cairan ke beberapa titik di badan mereka dan sebagian diminum. Cairan tersebut memiliki rasa pedas pahit, Lynx awalnya ingin membuat ramuan itu untuk menambah cita rasa masakan mereka dengan rasa pedas, namun karena rasa pahit yang cukup kuat, Ia mencampurkan lagi dengan beberapa bahan agar bisa memberikan manfaat untuk melawan halusinasi. Lynx menguji cobanya pada beberapa hewan tangkapan yang digunakan untuk percobaan. Saat ini Lynx berharap cairan itu bisa merangsang tubuh mereka melawan efek halusinasi yang akan mereka gunakan saat ini.

Melihat asap mulai masuk ke gua, mereka bertiga reflek menahan napas, berharap rencananya berhasil.

Tak lama setelah asap menyebar, serigala mulai beraksi. Mereka saling menggigit dan menerkam satu sama lain, terpengaruh oleh efek halusinasi dari asap tanaman ungu. Lynx dan Leena menyaksikan dengan mata lebar, melihat bagaimana kawanan serigala itu berubah menjadi kacau.

"Ini berhasil!" teriak Lynx dengan penuh semangat. Meskipun situasi masih berbahaya, mereka merasa sedikit lega melihat serigala saling menyerang satu sama lain.

Malam itu, meskipun rasa duka menyelimuti mereka, Lynx dan Leena berusaha bangkit dari keterpurukan. Mereka harus bertahan, tidak hanya untuk Chiko, tetapi juga untuk diri mereka sendiri. Sebuah harapan baru mulai tumbuh di antara reruntuhan kesedihan.

Malam pun semakin larut, dan gua tempat mereka berlindung dipenuhi asap ungu yang tebal. Asap tersebut, hasil dari tanaman beracun yang mereka bakar, menyebar dengan cepat, membuat suasana menjadi semakin mencekam. Meskipun Lynx, Leena, dan Sherly telah mengoleskan cairan penyelamat dan meminum ramuan untuk mengurangi efek halusinasi, mereka tetap terjebak dalam kondisi yang tak terkendali.

Lynx, Leena, dan Sherly untuk melindungi diri dari halusinasi telah mengikat tubuh mereka menjadi satu, berharap dapat saling menahan jika salah satu dari mereka mulai berhalusinasi. "Kita harus saling menjaga," kata Lynx dengan suara tegas, meskipun hatinya bergetar. Mereka bertiga terikat erat, napas mereka terasa berat di tengah asap yang menyelimuti.

Namun, seiring asap yang semakin tebal, ketakutan mulai merayapi mereka. Leena berteriak, "Biarkan aku pergi! Aku tidak ingin mati!" Suaranya melengking tinggi, dan ia melihat bayangan-bayangan aneh bergerak di dalam asap. Dalam pikirannya, bayangan-bayangan itu tampak seperti makhluk-makhluk mengerikan, siap menerkamnya. Jantungnya berdegup kencang, ketakutan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Sherly yang berada di sampingnya merasakan hal yang sama. "Lynx! Tolong! Aku tidak bisa bernafas!" teriaknya, matanya melotot ketakutan melihat sosok-sosok samar yang berkeliling. Dalam kegelisahan, ia berusaha merobek tali yang mengikat mereka, tetapi gerakan itu hanya membuatnya semakin terdesak.

Lynx, yang berada dalam keadaan lemah, berjuang keras untuk tetap fokus. Ia melihat teman-temannya mulai panik dan merasa ada yang salah. "Kita harus tetap tenang!" teriaknya, tetapi suaranya sendiri bergetar. Di luar gua, suara geraman serigala yang terpengaruh efek halusinasi semakin gaduh, menggema dan menambah rasa panik di dalam.

Dengan tekad yang kuat, Lynx meraih lagi kantong kecil berisi ramuan yang ia buat sebelumnya. "Ini akan membantu," gumamnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia tahu ramuan ini bisa membantunya bertahan. Dalam keadaan terdesak, ia berulang kali mencubit lengan dan pahanya hingga terasa sakit, berharap rasa sakit itu bisa mengusir efek halusinasi yang mengintai. Setelah itu, ia meminum ramuan tersebut, merasakan rasa pahit yang menyengat tenggorokannya.

"Tenang, Lynx. Tenang," ia berusaha menenangkan diri, tetapi saat matanya melihat bayangan-bayangan menakutkan mulai berputar di sekelilingnya, ia merasa semakin terdesak. Leena dan Sherly juga merasakan hal yang sama. "Apa yang terjadi?!" teriak Leena, matanya melotot melihat sesuatu yang tidak ada.

Lynx, dalam keadaan terdesak, menjulurkan lehernya untuk mengintip keluar gua. Ia melihat pemandangan yang mengerikan: puluhan serigala berhamburan, gigi-gigi mereka saling beradu, menerkam satu sama lain dalam kekacauan. Beberapa di antaranya tergeletak di tanah, entah mati atau terluka parah, sementara yang lainnya menerjang api unggun, membuat api itu semakin redup. "Apa yang terjadi pada mereka?" pikirnya, hatinya berdebar.

"Ini semua hanya ilusi," Lynx berusaha meyakinkan dirinya sendiri, meskipun keringat dingin mulai membasahi dahinya. Namun, suara jeritan Leena dan Sherly semakin menggema di telinganya. "Lynx! Apa yang terjadi?!" teriak Sherly, matanya melotot melihat bayangan-bayangan menakutkan yang tampak mendekat. Lynx merasakan jantungnya berdegup kencang. "Tenanglah, kalian harus tenang!" ujarnya, berusaha mengalihkan perhatian mereka.

Suara geraman di luar gua semakin mengganggu, dan Lynx melihat serigala yang tersisa mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah gua. Mereka tampak marah, menggeram dengan ganas, dan beberapa bahkan menerjang api unggun, membuat api semakin redup. Lynx menyadari bahwa mereka tidak bisa bertahan selamanya dalam kegelapan ini.

Dengan semua usaha yang dikerahkan, Lynx berusaha menahan kedua temannya. "Kita harus tetap bersatu!" teriaknya, meskipun ia sendiri mulai merasa lelah. "Ini adalah cara terbaik untuk mengatasi ketakutan kita!" Dia kembali berusaha untuk tetap fokus pada napasnya, menghitungnya sambil berusaha mengabaikan kekacauan di sekeliling. Dari posisi mereka, hanya Lynx yang bisa menahan dan melepaskan tali yang mengikat mereka.

Leena dan Sherly semakin gelisah, berontak dan berteriak-teriak ketakutan. Tanpa disadari gerakan mereka yang saling bergesekan membuat pakaian mereka tertarik dan lepas.  Lynx yang fokus pada keadaan sekitar awalnya tidak memperhatikan kondisi tersebut, ikatan tali dibadan mereka membuat Lynx tidak dapat melihatnya, namun seiring waktu, mendengar teriakan mereka, akhirnya Lynx melepaskan tali yang mengikat karena khawatir mereka saling melukasi satu dengan lainnya.

Setelah tali terlepas, Lynx takjub dengan pemandangan didepannya. Dia memandang Leena dan Sherly bergantian dari atas kebawah. Lynx menelan ludah melihat pemandangan indah didepannya.

Namun memikirkan kondisi mereka saat ini, Lynx berusaha mengabaikan dan berusaha menjaga agar mereka tidak melukai diri mereka sendiri. Meski merasa canggung, Lynx sering memeluk mereka untuk menahan agar mereka tidak terluka.

"Aku tidak bisa seperti ini, harus mencari cara." Kata Lynx didalam hati. Akhirnya dia memutuskan menggunakan racung ringan yang memiliki efek seperti obat bius. Obat ini dapat membuat yang meminumnya kehilangan kemampuan untuk mengendalikan syaraf-syaraf mereka selama beberapa waktu dan mereka biasanya mengoleskan pada ujung tombak atau mata panah saat berburu.

Dengan segera Lynx mengambil obat tersebut. "Ini akan membantu kalian tenang," ujarnya, berusaha menyuarakan ketenangan meskipun hatinya bergetar. Dengan hati-hati, ia memberikan obat tersebut kepada mereka dengan mengoleskannya ke bibir mereka agar terminum. "Kalian harus tidur sejenak. Ini akan membantu.". Lynx harus berhati-hati agar obat ini tidak membahayakan mereka. Tidak lama obat tersebut mulai menunjukkan reaksinya. Leena dan Sherly mulai tidak bisa mengendalikan tubuh mereka dan terduduk lemas. Lynx segera memindahkan mereka ke posisi yang aman.

Saat memindahkan Sherly, Lynx berusaha sebisa mungkin tidak lama menyentuhnya, meskipun matanya tidak pernah lepas menatap keindahan tubuh Sherly, terutama bagian bukit kembarnya yang memang terlihat lebih besar dari Leena. Namun hal itu tidak membuat Lynx hilang kendali, dia masih bisa menyadari resiko jika berbuat terlalu jauh terhadap Sherly.

Sementara saat memindahkan Leena, Lynx memanfaatkan kesempatan untuk mencium bibir Leena, namun saat akan mencium, Lynx teringat mengenai obat yang dioleskan. “Hampir saja, kalau kulakukan bisa kena pengaruh obatnya.” kata Lynx dalam hati.

Setelah meletakkan mereka berdua, Lynx berusaha bergerak lagi menuju pintu gua untuk memperhatikan kondisi para serigala.

Lynx terus berjaga, menunggu pagi datang dan mengusir kegelapan yang menyelimuti mereka. Dalam hati, Lynx berdoa agar mereka bisa melewati malam yang menakutkan ini dan menemukan jalan keluar dari semua kekacauan yang telah terjadi. Sementara itu, suara geraman serigala di luar gua semakin gaduh, dan Lynx tahu bahwa mereka belum sepenuhnya aman.

Keesokan paginya, sinar matahari mulai menyusup melalui celah-celah gua, menghangatkan suasana yang dingin semalam. Lynx duduk bersandar pada dinding gua, wajahnya pucat dan tampak lelah. Dia berhasil bertahan semalaman, berjaga untuk melindungi teman-temannya. Saat dia membuka matanya, ia melihat Leena dan Sherly mulai bergerak. Kedua gadis itu perlahan tersadar dari pingsan.

"Leena, Sherly, kalian sudah bangun?" tanya Lynx, suaranya serak. Dia berusaha tersenyum meskipun tubuhnya merasa lemah.

Leena membuka matanya lebar-lebar dan langsung duduk. "Lynx? Apa yang terjadi?" katanya, suaranya penuh kebingungan. Ketika ia melihat sekeliling, wajahnya mendadak memucat. "Kenapa kita tidak berpakaian?" tanyanya, menyentuh kulitnya yang terbuka. “Apa yang sudah kamu lakukan Lynx!” lanjutnya dengan nada marah.

Sherly juga terbangun, menyadari situasi yang sama. "Lynx, apa yang terjadi? Kenapa kita—" Suaranya terhenti saat ia melihat Lynx. "Kau masih berpakaian, tapi kami…"

Lynx terlihat sedikit canggung. "Kita... Kita terikat satu sama lain semalam," jelasnya, mencoba menjelaskan. "Asap dari daun ungu membuat kita berhalusinasi, dan dalam keadaan panik, kalian… kalian merobek pakaian masing-masing."

Leena menatap Lynx, kenangan malam itu mulai kembali lalu dia terdiam dengan wajahnya mulai memerah.

Leena merasakan ketidaknyamanan, tetapi ia tahu bahwa mereka harus segera mengecek apa yang terjadi di luar gua sehingga dia mengabaikan apa yang sudah terjadi. "Kita harus mengintip ke luar, melihat apa yang terjadi dengan kawanan serigala," ujarnya, berusaha mengalihkan perhatian dari situasi canggung.

Leena dan Sherly saling bertukar pandang, lalu mengangguk. Mereka bertiga merangkak ke arah lubang di sisi gua, mengintip keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Ketika mereka melihat ke luar, pemandangan yang menyambut mereka membuat jantung Lynx berdegup kencang. Kawanan serigala yang semalam terlihat mengamuk kini tergeletak di tanah, tampak tidak bergerak. "Apakah mereka semua mati?" bisik Leena, suaranya penuh ketakutan.

"Sepertinya begitu," jawab Lynx, tetapi instingnya mengatakan bahwa ada yang aneh. "Tapi tunggu, lihat itu…" Ia menunjuk ke arah beberapa serigala yang mulai bergerak perlahan.

Kawanan serigala itu, yang semalam tampak mengamuk, kini satu per satu mulai bangkit. Mereka tampak bingung, menggelengkan kepala seolah baru tersadar dari mimpi buruk. Lynx bisa melihat ada beberapa dari serigala itu yang tetap tidak bergerak.

Lynx merasakan kecemasan di dalam hatinya. "Mereka mulai tersadar dari efek halusinasi," kata Lynx, merasakan ketegangan yang meningkat. "Kita harus bersiap-siap jika mereka kembali mengamuk."

Leena menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri. "Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa tetap di sini!" tanyanya, matanya terus memperhatikan serigala yang bangkit satu per satu.

Lynx menatap ruangan di dalam gua,. "Kita masih memiliki beberapa ramuan yang bisa kita gunakan untuk melawan mereka lagi," ujarnya, mengingat kembali persiapan yang mereka lakukan sebelumnya. "Tapi kita harus berhati-hati."

Suasana di dalam gua terasa mencekam saat mereka bertiga mengintip keluar. Tiba-tiba, terdengar lolongan suara serigala yang menggema di udara pagi. Suara itu kuat dan menggetarkan, seolah memanggil kawanan serigala lainnya. Leena menutup mulutnya, sementara Sherly menggenggam lengan Lynx dengan erat, merasakan ketakutan yang menyelimuti mereka.

"Dengar itu?" bisik Leena, suaranya bergetar. "Apa yang terjadi?"

Lynx mengangguk, menatap ke arah kawanan serigala yang kini tampak semakin aktif. Di antara mereka, ia melihat seekor serigala yang lebih besar daripada yang lainnya. "Itu… sepertinya pemimpin mereka," kata Lynx, menatap dengan seksama. Serigala besar itu memiliki bulu yang lebih gelap dan tatapan yang tajam, memberikan kesan dominasi di antara kawanan.

Dengan suara lolongan yang terdengar, para serigala mulai bergerak, seolah-olah tergerak oleh panggilan sang pemimpin. Lynx merasakan jantungnya berdegup kencang, dan ia tahu bahwa situasi ini semakin berbahaya. "Mereka akan pergi," ujarnya, berusaha menenangkan teman-temannya. "Kita harus tetap di sini, jangan keluar sampai kita yakin keadaan aman."

Leena dan Sherly saling memandang, ketidakpastian terpancar di wajah mereka. Mereka bertiga terdiam sejenak, mendengarkan setiap suara di luar gua. Suara serigala semakin menjauh, tetapi ketegangan di dalam gua masih terasa kuat. Lynx merasa bahwa mereka harus tetap waspada, bahwa ini mungkin saja sebuah jebakan.

Setelah beberapa lama menunggu, Lynx mengedarkan pandangannya ke arah luar gua. "Aku akan keluar untuk memastikan keadaan," katanya, meskipun suaranya sedikit bergetar. Leena dan Sherly saling menatap, namun mereka tahu bahwa Lynx harus melakukannya.

"Baiklah, hati-hati," bisik Leena, mengingatkan Lynx untuk tidak mengambil risiko.

Dengan penuh hati-hati, Lynx melangkah keluar dari gua, merasakan udara segar yang menyapu wajahnya. Ia mengamati sekeliling, memastikan tidak ada serigala yang tersisa.

Pemandangan di luar gua tampak hening, tetapi Lynx tahu bahaya belum menjauh. Mereka harus sesegera menemukan Chiko untuk mengetahui keadaannya dan bersiap siap sebelum kawanan serigala kembali menyerang.

Setelah memeriksa sekeliling, memastikan serigala yang tertinggal sudah mati, Lynx merasa cukup aman untuk memanggil Leena dan Sherly. "Ayo, kalian bisa keluar sekarang!" teriaknya, agar mereka segera keluar.

Leena dan Sherly keluar dari gua, namun saat mereka melangkah keluar, perasaan tidak nyaman menyelimuti mereka. "Kita harus mencari Chiko," kata Lynx, suaranya tegas meskipun ada kegugupan di dalam hatinya.

Belum jauh mereka melangkah, Leena mengingat kembali kejadian semalam. "Semua ini salahmu, Sherly!" serunya, suaranya penuh kemarahan. "Kau yang mendorong Chiko ke arah serigala!"

Sherly terlihat cuek, mengangkat bahu. "Dia yang tidak mau bergerak cepat. Aku hanya mencoba untuk menyelamatkan diri sendiri," jawabnya, nada suaranya menunjukkan keegoisan. "Kau tidak bisa menyalahkanku atas yang sudah terjadi."

Leena merasa darahnya mendidih. "Tapi Chiko… dia adalah teman kita! Kau membuatnya menjadi umpan! Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali?" tanyanya, suaranya bergetar karena emosi.

Lynx merasakan ketegangan di antara mereka. "Leena, sekarang bukan saatnya untuk bertengkar," katanya, berusaha menenangkan. "Fokuslah pada apa yang ada di depan kita. Kita harus menemukan Chiko."

Leena mengalihkan pandangannya, masih marah pada Sherly. "Dia seharusnya masih bersama kita! Jika saja kau tidak mendorongnya…" Leena tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, air mata mulai mengalir di pipinya.

"Sekarang kita harus bergerak," Lynx mendesak, suaranya tegas. "Jika kita terus berdebat, kita hanya akan memperburuk keadaan. Kita perlu mencari Chiko dan memastikan kita aman."

Mereka bertiga mulai menjelajahi area sekitar gua, namun tidak menemukan jejak Chiko. Hanya ada mayat serigala dan darah yang mengalir di tanah, menciptakan bekas noda yang mengerikan. "Di mana dia?" tanya Leena, suaranya nyaris berbisik, ketakutan mulai merayapi pikiran mereka.

Leena menutup mulutnya, berusaha menahan tangis. "Ini tidak mungkin," ucapnya, matanya melotot melihat bekas-bekas darah yang tertinggal. "Kita harus menemukannya. Dia tidak mungkin pergi begitu saja."

Lynx merasakan ketegangan yang semakin meningkat. "Kita harus mencari lebih jauh," katanya, berusaha tetap tegar. Namun, hatinya berdebar-debar, merasakan ketakutan yang menyelimuti mereka. Mereka terus berjalan, mencoba mencari petunjuk tentang keberadaan Chiko.

Setelah beberapa saat mencari, mereka menemukan beberapa bagian tubuh yang tergeletak di tanah. "Oh tidak... ini…," Leena terhenti, menatap dengan ngeri. Mereka semua terdiam, tak mampu berkata-kata. Darah berceceran dan bagian-bagian tubuh yang tidak utuh membuat perut mereka mual.

"Chiko…," Lynx berbisik, merasakan kesedihan yang mendalam. "Dia… dia tidak mungkin…" Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, air mata mulai menggenang di matanya.

Sherly terlihat tidak merasa terpengaruh. "Ya sudah, mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi." Nada suaranya datar, seolah tidak ada beban di hati.

"Bagaimana kau bisa begitu cuek?" Leena menatap Sherly dengan penuh kemarahan dan kekecewaan. "Kau tahu kita kehilangan teman kita!"

"Sekarang kita butuh untuk fokus. Kita harus selamat, itu yang penting," jawab Sherly, terlihat acuh tak acuh dengan situasi.

Lynx menepuk bahu Leena, berusaha memberikan penghiburan. "Kita semua merasa kehilangan. Tapi kita tidak bisa membiarkan kemarahan kita menghalangi kita. Kita harus bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari sini."

Mereka berusaha mengumpulkan pikiran dan mengatasi ketakutan yang menggerogoti. Namun, bayangan Chiko yang tersisa di benak mereka membuat rasa sakit itu semakin dalam. Mereka tahu bahwa mereka harus menemukan solusi. Serigala mungkin kembali, mereka harus mencari cara secepat mungkin.
